Star Cluster

by - Minggu, Juni 11, 2017

Rasanya uda lama banget ga blogging dan bikin cukup kangen.
Percaya deh, ga blogging bukan karena sibuk, tapi lebih karena males. Huhuhu :'(
Dan aku rindu kalian...

Ini cerpen pertama yang aku coba buat, baru belajar jadi agak berantakan dan ga jelas. Ngomong-ngomong, makasih yang udah nyempetin waktu buat baca, jangan lupa tinggalin komentar pedes di bawah ya buat advice aku buat belajar lebih lagi.


****

Star Cluster

Aku jatuh cinta dengan cerita bagaimana kita berjumpa. Saat itu kita ada di atas kapal bermotor menuju Geragjagan Banyuwangi, G-land. Kita duduk di bangku yang bersebalahan, aku datang sendirian dan sedang duduk sendirian, kamu duduk sendirian dan datang bersama rekanmu, sesama videographer, Jeremy kalau tidak salah kamu menyebutnya, seorang Australia yang mencintai selancar air juga. Tentu saja goncangan kapal membuat aku mabuk. Aku sempat muntah beberapa kali, sejujurnya banyak sekali dan ga mampu tertidur, aku  sudah memcoba mengalihkan perhatian dengan baca buku, Arok Dedes oleh Pramoedya Ananta Toer dan kamu di sana, di sebelahku menggunakan kacamata hitam, kamu sedang tertidur, mungkin.

Kita ada di atas kapal selama dua setengah jam perjalanan dari Kuta Reff ke Gragjagan-Banyuwangi, di sana hanya hutan sepi dengan banyak monyet berkeliaran, tentu saja ada beberapa rusa liar sedang minum di air laut yang surut serta beberapa elang terbang menangkap ikan. Di salah satu sudut jalan hutan terdapat papan “Alas Purwo National Park” saat kita sampai di pantai menuju cottage kita, kita masih tanpa sapa dan belum mengenal satu sama lain pastinya.

Aku datang tak lebih hanya untuk membuang penat dituntut lekas menikah oleh lingkungan, bosan rasanya seperti tak ada hal lain yang lebih genting dan penting selain menikah, menikah dan menikah untuk perempuan seperempat abad. Seakan-akan aku lajang berumur setengah abad dan semua berteriak “Injury time, injury time, Dela”, aku butuh sebuah perjalanan untuk me time, jauh dari semua orang yang menuntutku untuk menikah.

Lalu semuanya masih berjalan seperti biasanya, aku tetap sendirian, melamun sendirian dan sedikit bicara kecuali dengan staff di sana yang berbicara bahasa Indonesia, aku tidak bisa berbicara dengan yang lain, yang berbeda Negara. Kamu duduk di salah satu kursi di Bar, membaur dengan semua, kamu supel. Setelah sehari di sana semua masih sama: kita tak lebih apa-apa, senyumpun tidak. Hingga suatu senja ketika aku menikmati sendirian, kamu di bawah menerbangkan drone-mu, aku duduk di atas, di tempat untuk penjaga pantai.

“Eh bisa minta tolong ga?” Sapaan pertamamu.

“Apa?”

“Kamu lagi pura-pura selfie”

“Oke” Kemudian biasa saja.

Senja semakin tenggelam, aku turun dan duduk di kursi pantai mengobrol santai dengan staff yang menjual beer di sana.

“Aku lihat kamu baca Pram” Aku menoleh, melihatmu takut. Kamu mengambil duduk di sebelahku, meminum beer. Kamu sangat santai.

“Ya? Arok Dedes?” Kataku terbata. Pupil matamu membesar dan terlihat seperti berpikir, ada jeda.

“Mmm, aku udah baca kayaknya”

“Oh ya?”

“Kamu suka baca novel?”

“Iyah, tapi aku baru nyoba baca Pram, sebelumnya cuma baca teenlit dan bacaan alay. William Shakespeare?”

“Oh ya? Kamu benar-benar alay. Apalagi?”

“Aku suka Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka?”

“Teman-temanku juga ramai membicarakannya. Dulu aku suka baca juga,  Cuma sekarang karena kesibukan jadi ga sempet. Tapi baca bukan hal asing kok bagi aku”

“Iyah, aku ga baca nonfiksi. Aku hanya baca fiksi. Otakku ga mampu mencerna nonfiksi”

“Hahaha, perlahan, santai aja” Lalu semua melebur dan berakhir sebagai obrolan biasa di kala senja.

Keesokan harinya semua masih biasa. Kita pergi makan pagi tanpa senyum ataupun sapa seperti tidak ada terjadi percakapan kemarin sore, lalu makan siang hingga sore ketika senja tiba lagi, saat aku keluar kamarku tiba-tiba kamu menyapa.

“Kita tetangga”

“Iya”

“Eh kemarin bagus loh hasil rekamannya”

“Oh ya?” Kamu menunjukkan beberapa rekaman yang kamu ambil menggunakan drone-mu kemarin, aku hanya menggangguk sekenanya. Lalu percakapan berakhir begitu saja, banyak yang menggantung disana.

Seperti biasa tiap senja tiba kita beramai pergi bersantai ke pantai. Tapi kali ini kamu di pantai hanya duduk santai biasa bersama rekanmu, tidak ada kesibukan menerbangkan drone seperti kemarin. Dan aku seperti biasa pula naik dan duduk di tempat penjaga pantai lalu turun menjelang senja hampir tenggelam dilanjutkan mengobrol santai dengan staff di pantai. Kamu menghampiriku lagi, seperti halnya kemarin.

“Kamu kayaknya ada di sana deh, terus di sana, terus di sini. Kapan pindahnya?”

“Kayak kutu loncat ya?”

“Bukan. Mmm, kayak apa ya?”

“Hahaha. Eh kita belum kenalan. Dela. Dela Sari” Aku menjulurkan tangan kananku kepadamu, kamu menyambutnya.

“Bayu Mahendra”

“Pak?”

“Hahaha, emang umurmu berapa?”

“Dua lima”

“Oke, tiga tujuh”

“Sudah tua! Marriage?”

“Divorce”

“Sorry”

“Hahaha, gapapa. Itu sudah lama banget”

“Oke”

Dan kemudian kita berlanjut dengan percakapan-percakapan yang biasa, basa-basi biasa, cerita satu sama lain. Cerita tentang pekerjannju, tentang semua hal yang sudah kamu capai dan banyak hal yang belum aku capai sebagai juniormu-dengan perkerjaan-hanya mbak-mbak kantoran biasa. Aku hanya menatap antusias mendengar cerita-ceritamu, terutama travelingmu ke ASEAN, itu menarik bahwa kamu adalah backpacker bukan anak koper. Kamu bilang kamu melakukannya karena terinspirasi dari tokoh Bodi di Akar-nya Dewi Lestari.

“Ya kamu cocok, karena wajahmu Chinese”

“Hahaha, iyah”

Hingga senja menghilang berganti malam orang-orang telah kembali ke cottage mereka masing-masing kita masih asik mengobrol santai di pinggir pantai, dalam gelap dan kita saling meraba dalam melihat.

“Kita terlambat untuk makan malam” Tegurku

“Iyah. Eh kamu mau nemenin aku ga entar malem jaga kamera?”

“Dimana?”

“Helipad Hutan”

“Kenapa ga sekarang kamu motret?”

“Ga, motret timelapse selama beberapa jam. Kameranya motret tiap satu menit sekali”

“Emang harus dijagai?”

“Ga, aku takut aja dibawa kabur monyet”

“Oke”.

Dan saat itu sehabis makan malam kita pergi ke Helipad dengan membawa selimut dan bantal masing-masing lalu kita berbaring bersebelahan disana: di Helipad di tengah hutan di pinggir pantai menatap langit berbintang. Indah sekali. Aku hanya terdiam tanpa kata, begitu juga kamu. Ada rasa luar biasa di sana, aku sama sekali tidak menyesal menemani kamu jaga kamera saat itu.

“Ada bintang jatuh. Kamu lihat?”

“Ya”

“Make a wish?”

“Seperti yang Paman Geppeto lakukan, Paman Geppetonya Pinocchio”

“Ya. Kamu sama siapa?”

“Sendirian”

“Di cottage?”

“Ya, kamu?”

“Sama Jeremy, kan bed ada dua”

“Ya di room ku juga”

“Tapi kamu sendirian”

“Ya aku sendirian. Kamu main surfing?”

"Gabisa, tapi Jeremy bisa dan dia suka! Aku kesini cuma liburan biasa"

Lalu hening, kembali menatap gugusan bintang.

“Kamu lihat yang berentuk huruf T kecil” Katamu sambil menunjuk salah satu gugusan bintang. “Itu 
Scorpion” Lanjutmu.

“Itu yang paling besar di sana pasti Jupiter’

“Bukan, itu Saturnus. Indah yah?”

“Bukannya Jupiter?”  Kamu mendekatkan kepalamu kepadaku, tanganmu menunjuk ke atas, dan berkata “Itu, yang paling besar, yang lebih rendah, itu Jupiter”  Aku mengikuti arah yang kamu tunjuk. Kemudian kita terdiam lagi, menatap langit lagi. Kalau tidak salah kita menghadao ke selatan saat itu.

“Kenapa di langit utara bintangnya ga sebanyak sebelah  selatan?” Aku menoleh ke utara, sudah pantai kemudia perkotaan mungkin di sebrang sana, kota Banyuwangi. “Di sana terang, makanya cahaya bintang jadi ga kelihatan”

“Ya?”

“Kamu tahu di sana apa?” Aku menggeleng. “Hanya hutan, kemudian laut, kemudian benua Australia. Maka dari itu bintang-bintang terlihat lebih terang”.

Dan kita melanjutkan malam-malam berikutnya dengan berbaring di tempat yang sama untuk melihat bintang-bintang, tapi setelahnya tanpa ada harus menunggu kamera yang motret tiap satu menit sekali supaya tidak dibawa monyet. Kita hanya suka, suka mengahbiskan malam berdua untuk melihat bintang-bintang hingga tertidur disana. Aku bahagia dan berterima kasih kepada semesta, kepada galaksi yang membuat kita lebih dekat dan semakin akrab, semakin menemukan banyak perbedaan yang menyatukan dan itu luar biasa. Kita nyaman dengan semuanya.

“Kamu dengar itu?”

“Ya? Kamu suka suara ombak?”

“Dari mana kamu tahu?”

“Tidak, aku hanya berharap bukan hanya aku saja” Aku menatap matamu yang sipit itu, aku ingin menyelam di dalamnya. Kamu menatapku balik, hening dan perlahan kita berciuman di bawah ribuan bintang. Terima kasih Pram yang menjadi alasan kamu menyapaku. Kemudian kita terdiam lama, ada suasana awkward setelahnya.

“Itu” Katamu menunjuk pada salah satu gugus bintang. “Lyra”

“Seperti tokoh di Golden Compass”

“Dia hebat, pengawalnya seekor beruang besar”

“Sayang, ga ada kelanjutannya” Sesalku.

“Loh, bukannya sudah tamat?”

“Itu trilogy. Novelnya trilogy. Seharusnya ada kelanjutannya”.

Aku semakin suka menghabiskan malam bersamamu. Baik malam-malam kemarin maupun maalam yang sekarang. Untuk pertama kalinya aku merasa aku tidak aneh ketika ngobrol dengan seseorang tentang sesuatu yang aku suka, sepertinya kita menyukai  hal yang sama bukan?. Kita seperti hopeless romantic yang sedang dipertemukan, kita larut dalam suasana hangat di bawah bintang-bintang, hanya kita berdua di helipad di tengah huutan di pinngir pantai dengan suara ombak yang terdengar sangat jelas. Kita membicarakan apapun: tentang buku-buku, tentang mimpi-mimpi, tentang masa lalu dan mencoba memaafkannya hingga tentang hal-hal yang tidak penting sama sekali, seperti kita lahir di tanggal yang sama dan mempunyai zodiac yang sama. Kita seperti saling memantulkan-seperti matahari senja yang memantul di laut-seperti saat itu.

Hingga tiba malam terakhir karena esok kapal sudah mejemput dan membawa kita pulang, kembali ke kehidupan masing-masing. Dan perasaanku semakin besar terhadapmu.

“Nama bintangnya seperti meja pernikahan”

“Itu Altar, bintangnya namanya Altair” Katamu menjelaskan. Lalu kamu tiba-tiba terdiam lama. Aku 
menatapmu, siap untuk mendengarkan ceritamu lebih lanjut.

“Del?” Ucapmu ragu

“Ya?’

“Aku sudah cerita belum?”

“Apa?”

“Aku in open relationship” Aku menatapmu serius.

“Kamu punya sudah punya mate?” Kamu menatapku lesu.

“Ya, maka dari itu maafkan aku. Aku suka sama kamu!” Ada rasa kecewa oleh kebenaran sederhana yang sudah terlambat dikatakan. Apakah memang sesederhana itu atau rumit! Aku menggigit bibir bawahku, mataku sudah sedikit terasa panas. “Aku juga suka kamu”. Lalu ada jeda yang lama dan aku telah terluka dan tersadar di saat yang bersamaan. Cinta tak pernah datang tepat waktu di saat aku berpikir menemukan orang tepat. Kamu menyesal atas semuanya. Kemudian aku patah hati, sebagai bunga aku layu, bahkan sebelum waktunya bertumbuh. Kamu memelukku di malam terakhir itu di Helipad di tengah hutan di pinggir pantai di bawah ribuan bintang yang kita habiskan bersama menatapnya selama beberapa malam.

“Aku suka sama kamu. Aku bahkan ga minta itu, tapi ini aku, aku punya mate. Kita emang open relationship. Maaf kalau kamu ga bisa nyerna itu” katamu.

Dan masih haruskah aku berterima kasih pada Pram yang menjadi alasan sapaan pertamamu kepadaku? Aku benci mengakui bahwa aku jatuh cinta, jatuh cinta dengan cerita bagaimana kita berjumpa dan Pram adalah alasan sapaanmu pada senja kala itu. Dan pastinya, aku jatuh cinta dengan ciuman perlahan di bawah gugusan bintang kala itu, di Helipad tengah hutan di pinggir pantai. Sesederhana itu semesta, sesederhana itu bahagia dan sesederhana itu terluka.


You May Also Like

21 komentar

  1. Ceritanya romantis meski pada akhirnya layu sebelum waktunya tumbuh. Tapi entah kenapa aku jadi sulit untuk mencernanya ya?
    Apa mungkin karena ada beberapa tanda baca yg seharusnya titik (.), tetapi di bikin tanda koma (,) ya?
    Ah, sudahlah.. Mungkin aku saja yang kurang fokus. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya juga berkembang kok mas heheh

      Hapus
  2. Hai mbak Shita, cerpennya bagus, secara tidak langsung ada ajakan untuk suka membaca. Hanya saja saya bingung percakapan milik jeremy dan mbak mbaknya yang mana, efek kecepatan baca kali ya akunya salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bayu sama Dela, bukan sama Jeremy. Jeremy itu temen Bayu.
      hehehehe

      Hapus
  3. hemm, bikinin novel donk dek, :D

    BalasHapus
  4. Heiii baguuus ceritanya. Sukaaa. referensinya juga keren. Hohoho. Anyway, baru pertama kali ke sini. Salam kenal ya, May! \:D/

    BalasHapus
  5. Niat banget nulisnya. Ayo ditulis yang banyak, ntar gw baca.

    Btw, gw juga kangen luhhh...

    Lama gak main ke blog ini. Sowwreee

    BalasHapus
  6. Ini sering terjadi, jatuh cinta padahal sudah memiliki mate atau pasangan
    bahagia dan rasa kecewa jadi satu, tapi itulah cinta datang pada siapapun yang ingin ia datangi
    May, sungguh menikmati cerita ini
    rasanya ini cerita adalah cerita tentang seorang Maya hiks ...

    BalasHapus
  7. Komen pedes yang eluw minta:
    1. Banyak typo, sehingga aku harus baca kalimatnya berulang2,

    2. bener kata Djacka, penggunaan tanda baca yang membingungkan, jadi membuat bingung.

    3. karakter Dela sebagai peran utama kurang kuat, tapi mungkin pembawaan ceritanya seperti itu? Atau memang sengaja agar pembaca jengkel melihat wanita lembek?

    4. Bahasa yang kamu gunakan separuh sastra, separuh bahasa blog,

    Eh itu aja May, tolong kritiknya jangan masukin hati, kan kamu sendiri yg minta. :)

    Overall, aku membaca karya kamu ini dengan menggebu2 dan enjoy banget, artinya, kamu berhasil bikin pembaca mengikuti alur cerpenmu. Aku suka endingnya, /'surprising bgt.

    Ayo berkarya lagi. Oia, setting yg kamu jabarkan, semoga bisa diperkuat dan diperindah lagi. Demikian juga dengan penegasam krakter2 nya,

    Aq juga ga bisa kok May nulis cerpen, jadi disini nggak bermaksud menggurui, cuma sharing aja.

    Sukses selalu

    BalasHapus
  8. Jadi della akhirnya berjodoh dengan duda dunk may
    Btw aku jadi penasaran ama buku arok dedes ituh, duh knapa aku baru tau ya buku pramudya yang onoh #padahal ngakunya pecinta sastra eyke hihi
    Klo bole kasi saran, memang ada beberapa typo di percakapan yang seharusnya syahdu may, rada ngeganggu...mungkin klo ga typo bakal ngena lagi bacanya
    Oya, ini klo aku simpulin sih masih ala ala pembukaan yes, blom nyampe klimaks ato memang sengaja dimodelkan seperti itu...dalam arti kata alurnya mendatar lebih ke permainan emosi yang smooth?

    BalasHapus
  9. Cerpennya bagus mbak.
    Kalo kritik pedasnya mah, paling tentang typo yang masih banyak dan karakter yang kurang kuat.

    Sukses terus buat cerpennya ya mbak :)

    BalasHapus
  10. Ada yang rindu nih, terkadang rasa males itu memang gitu. Membuat orang males gak ngapa-ngapain, tapi ada hal yang pengen di lakukan, termasuk rindu akan teman-teman blog.. Harusnya bisa lebih semangat lagi teh..he

    Selain keren, romantis nih. Dan, yang perlu diperbaiki sih typonya. Aku bicara gini karena untuk menasehati diriku sendiri yang sering typo..hehe

    Kadang mata sudah jeli lihat, tapi tetap kalau udah di publish masih ada yang typo. Ya, sebagaimana nulis di word terlihat benar, tapi ketika di print ada yang salah..haha

    Aku juga masih belajar nulis cerpen nih, Teh, semoga terus bisa belajar :)

    BalasHapus
  11. cerpennya menarik mbak, berasa masuk ke ceritanya. walaupun saya belum terlalu suka cerpen tapi ceritanya ringan. Nah sebarnya ada hal yang buat saya bingung baca cerpen mbak yaitu persoalan tanda baca aja sih. cerita okelah, tinggal perbaikan aja di tanda bacanya mbak. iya saya juga sependapat dengan mbak GIRINDRA WIRATNI PUSPA, tidak optimalkan lagi mbak tulisannya, keren kok alurnya. ditunggu cerpen selanjutnya yah.

    BalasHapus
  12. nggak sanggup baca cantik itu luka, padahal banyak yg suka sampek jd best seller
    aku bosen banget gak sampek kelar
    selera orang beda beda sih
    dan menurutku ceritanya eww gross

    begitulah -_-

    BalasHapus
  13. ya ampun mbaaa udah baca enak2 taunya pas lagi sama dia mba muntah, lucu2 gimana gituh =))

    BalasHapus
  14. bagus kok.. karena aku yakin, aku belum tentu bisa buat cerpen sebagus itu.

    nggak tau kenapa lagi suka baca cerpen atau novel yng bersangkutan sama cinta-cintaan.. hahaha #curcoldikit

    klo aku sih mungkin tanda baca, sama masih bingung siapa yg terlibat dalam percakapan, sama mungkin bisa di dramatisir dikit kali yah, *tapi nggk terlalu lebay juga.. hehehe

    BalasHapus
  15. mantap.. settingannya cottage.. jd pengen baca yang nama2nya bukan nama canggih kek jeremy dll en di cottage pula, melainkan didin misalnya di bawah kolong jembatan teyot dipinggir kali.. ckckck.. mantaplah (Y) jempol

    belajar photoshop

    BalasHapus
  16. Kok aku suka alurnya siiiiih 😂 pertemuan sesaat yang yha... Rasa itu datang tapi dengan waktu yang salah, eh... Atau emang salah ya 😂
    Apalagi settingnya di tempat kek gitu. Arghhh rasanya ingin jadi kenyataan. Tapi nggak mau sih yang terakhirnya terjadi 😂

    Tapi, kebanyakan typo nih mbak. Punten pisan, sebelum di post, dibaca lagi lebih baik. Lebihnya aku menikmatiiii. Goodjob! Makasih 😉

    BalasHapus
  17. 'PEDAS' - buat kamu yang ingin aku berkomentar pedas :')

    Hihi aku nggak bisa mengkritik atau apalah lainnya itulah. mungkin lebih ke typo aja ya. Selebihnya, aku selalu kagum sama orang yang pandai bikin cerpen, soalnya aku gak bisa bikin :')

    Hihihi semangaaat mbak, terus berkarya, dan salam kenal yak. baru mampir nih :D

    BalasHapus
  18. Tulisannya bagus, aku simak dari awal sudah lumayan. kayaknya bisa jadi batu loncatan ke cerpenis deh .

    BalasHapus
  19. salut May..
    cuma bener apa kata beberapa temen Blog, tanda baca perlu diperhatikan
    oh ya rekomendasi aja bisa sih bw ke Blog nya bu lis Suwasono (Fiksi Lizz). Kamu bisa belajar banyak di sana.

    BalasHapus