Ibu dan Cerita Kehilangan Lainnya.

Terakhir kali merasakan mempunyai seorang ibu adalah lima belas tahun yang lalu, kemudian hampa. Ga akan habis kata untuk menjabarkan apa itu ibu. Semua pasti merasakan kehangatannya, cintanya, sayangnya sampai ke tulang. Lalu, bagaimana rasa kehilangannya? Dunia bukan hanya runtuh, bukan hanya hancur, tetapi  lenyap.

Lima belas tahun kemudian  aku sadar. Aku bersyukur dia meninggal dan pulang kepada Tuhan lebih awal. Kasarnya, aku bersyukur dia mati.

Kejam?

Ibuku seorang tukang jahit lagi tukang make up. Dia wanita hebat dengan segala kreatifitas dan karya yang dia hasilkan dengan imajinasi yang dia realisasikan dengan tangannya.  Jadi, aku bukan apa-apa dibandingkan ibuku. Bahkan aku ga ada sekukunya. Aku receh. Kadang aku menyesal, seharusnya aku bisa lebih hebat dari pada dia. Nyatanya, di 24 aku belum jadi apapun. Aku belum mempunyai kreatifitas ataupun karya yang bisa aku banggakan. Aku belum bisa apa-apa.

Aku bersyukur dia mati.

Mungkin kalau dia masih hidup dan bersama aku sampai sekarang, aku bahkan ga lebih hebat daripada aku yang sekarang, karena aku ga butuh apapun dan aku ga penasaran dengan apapun tentang dunia. Aku bisa bisa melihatnya dari matanya, aku bisa mendengarkan dari ceritanya. Aku ga perlu melakukan apapun untuk mengetahui apa itu dunia, karena waktu aku sama dia aku bisa merasakan dan melihat apapun, ga cuma dunia bahkan semesta.

Hingga ketika dia mati aku kehilangan semuanya.  Diawali dengan aku kehilangan cerita sebelum tidur. Aku ga bisa tidur tanpa itu. Jadi tidur tanpa cerita adalah stressku yang pertama dan itu karena  aku kehilangannya. Marah? Ya, bahkan aku marah sama Tuhan. Dan akhirnya aku sadar, karena hal itu aku terpaksa membuka buku untuk membaca cerita sendiri hingga sampai di titik dimana hal itu berubah menjadi obsesi. Mencintai buku. Kebanyakan aku ga baca non-fiksi. Aku baca fiksi, karena aku masih terlalu bodoh untuk membaca sesuatu yang sedikit berat.


Setelah bekerja dan mulai bisa menyisihkan gaji yang ga banyak tapi cukup, aku mulai membeli buku-buku yang aku suka. Parahnya, aku hanya suka membelinya, menumpuknya dan lupa membacanya dengan alasan  ga sempet karena sibuk. Tapi bukan itu intinya. Obsesiku lebih dari itu, aku membelinya hanya karena aku bahagia setiap pulang kerja ataupun pulang dari kegiatan apapun yang aku lakukan di luar rumah. Aku bahagia melihat tumpukan buku-buku karya dari orang-orang hebat. Aku bahagia karena aku merasakan aku melihat ibuku. Aku merasakan tatapan matanya, mendengar suaranya, hangatnya dan kehebatannya-membuatku tetap bermimpi untuk menjadi hebat seperti mereka yang menguasai dunia, para penulis dan ibuku, bahkan mungkin setelah mereka mati mereka ga hilang begitu saja.

You May Also Like

3 komentar

  1. Kehilangan adalah hal yg sangat menyakitkan, butuh waktu utk menerima keadaan

    BalasHapus
  2. jangan lupa terus doa mbak buat ibunya

    BalasHapus
  3. Semuanya butuh waktu, termasuk ketika kehilangan ibu. Tapi itu sudah takdir, saat ini harus banyak berdoa ya, Teh..

    Termasuk butuh waktu untuk terus belajar dan menggapai apa yang diinginkan. Semoga doa dan cita-citanya Allah kabulkan satu persatu ya, Teh..aamiin..

    Oh, ya, minal aidzin walfaidzin ya, Teh, mohon maaf lahir dan batin :)

    BalasHapus